Racun yang Menghidupkan

Tersebutlah seorang pengusaha sukses yang kaya raya. Perusahaannya berkembang begitu pesat dan sudah go internasional. Namun, apa hendak dikata. Ketika krisis global melanda, perusahaannya pun terancam gulung tikar. Stress, bingung, dan pusing memenuhi pikiran sang pengusaha.
Urusan di kantor begitu memusingkan, urusan rumah tangga pun tiada berbeda. Setiap hari ia uring-uringan dengan istrinya. Anak-anaknya menjadi liar karena kurang perhatian darinya. Urusan pendidikan diserahkan begitu saja kepada sang istri karena yang ada dalam pikiran si pengusaha hanya mencari harta dan harta.
Ketika beban semakin menghimpit. Tekanan datang dari sana dan sini. Tagihan bank pun terus mendesak, si pengusaha akhirnya memutuskan untuk bunuh diri. Namun sebagaimana manusia pada umumnya, bunuh diri adalah suatu hal yang menakutkan.
Si pengusaha pun mendatangi seorang psikiater ternama untuk meminta pertimbangan darinya. Tentu saja sang psikiater menyarankan agar si pengusaha mengurungkan niatnya untuk bunuh diri. Segala nasihat yang dilancarkan si psikiater tidak memuaskan hati si pengusaha.
Kecewa dengan psikiater pertama, si pengusaha pun menemui para psikiater lainnya. Namun kejadiannya sama saja. Setiap kali si pengusaha mengutarakan keinginannya untuk bunuh diri, para psikiater yang ditemuinya selelu saja mencegah dan melancarkan jurus-jurus nasihat bermacam-macam.
Sampai akhirnya si pengusaha bertemu seorang psikiater yang benar-benar berbeda. Konon dalam dunia psikologi, orang ini dijuluki sebagai sang psikiater aneh. Ketika si pengusaha menceritakan kisah pahit kehidupannya, si psikiater aneh hanya manggut-manggut saja. Bahkan, ketika cerita si pengusaha sampai pada bagian: "Saya ingin bunuh diri", si psikiater masih saja manggut-manggut seolah memberi dukungan.
Si pengusaha heran bercampur bingung. Dari sekian banyak psikiater yang ia temui, baru kali ini ada yang mendukung niatnya untuk bunuh diri. Bahkan, psikiater itu berkata, "Saya punya racun yang paling nikmat di dunia ini. Jumlahnya ada dua botol, rasanya manis. Botol pertama berisi ramuan yang bisa menenangkan perasaan Anda. Jika meminum racun pada botol pertama maka Anda dijamin lebih siap mental untuk mati. Sementara botol kedua berisi ramuan yang sangat mematikan. Jika Anda minum racun kedua maka Anda akan jatuh tertidur dan setelah itu nyawa Anda akan melayang dengan sangat nikmat. Bagaimana?"
Si pengusaha tertegun ragu-ragu. Namun mengingat himpitan masalah yang sedang malanda dirinya, ia pun membulatkan tekad untuk mengambil kedua botol tersebut. Si psikiater pun membacakan aturan pemakaiannya.
"Racun pada botol pertama Anda minum nanti malam. Sedangkan botol kedua Anda minum besok malam. Jangan diminum bersama-sama karena Anda bukannya mati malah menderita berkepanjangan."
Si pengusaha pun berterima kasih dan segera pulang. Malam itu menjelang tidur dia meminum isi botol pertama sampai habis. "Rasanya benar-benar manis. Ini adalah racun paling nikmat yang pernah ada."
Pagi harinya si pengusaha merasa jiwanya begitu tenang. Dia berkata, "Hari ini aku sudah setengah mati. Hari ini adalah hari terakhir aku hidup di dunia ini. Tidak ada salahnya kalau aku bersikap lebih baik kepada semua orang di sekitarku."
Maka, pagi itu si pengusaha pun berangkat kerja dengan penuh semangat. Di sepanjang jalan ia mengumbar senyuman. Lebih-lebih lagi ketika masuk ke dalam kantornya. Mulai dari satpam, resepsionis, para staf, manajer, bahkan cleaning service semua mendapat perlakuan istimewa hari itu. Para karyawan bertanya-tanya, "ada apa sebenarnya ini? Mengapa si bos mendadak berubah. Biasanya setiap hari Beliau suka marah-marah, kenapa hari ini begitu baik dan menyenangkan?"
Begitulah, hari itu pun berlalu dengan begitu indah. Para karyawan bekerja dengan penuh semangat. Si pengusaha tidak memaksa mereka bekerja sampai larut malam. Mereka diizinkan pulang sebelum jam lima sore. Para karyawan pun bergembira. Mereka berjanji besok akan kembali ke kantor dengan penuh semangat, tanpa keterpaksaan.
Begitu pulang ke rumah si pengusaha kembali berpikir, "Hari ini aku hidup untuk yang terakhir kalinya. Istri dan ank-anakku sering kutinggalkan untuk urusan bisnis. Hari ini aku ingin mengajak mereka bersenang-senang.
Maka perubahan pun tidak hanya terjadi di kantor saja. Di rumah pun suasana terlihat sangat bahagia. Istri dan anak-anak terkejut melihat perubahan sang pengusaha, namun dalam hati mereka merasa sangat bahagia. "Andai saja sejak dulu Papa seperti ini, mungkin kami akan selalu hidup bahagia." Malam itu mereka pergi keluar, makan, minum, nonton film, karaoke keluarga, dan hiburan lainnya yang menambah keakraban. Sedikit pun si pengusaha tidak menyinggung masalah perusahaan di hadapan keluarganya.
Dalam perjalanan pulang si pengusaha selalu berpikir bahwa hidup ternyata sangat indah apabila kita saling menyayangi, saling tersenyum satu sama lain, saling menghargai keberadaan orang lain di sekitar kita. Selama ini yang ada dalam benak si pengusaha hanya uang dan materi. Sedikit pun ia tidak peduli dengan perasaan orang di sekitarnya. Biasanya ia bertengkar dengan istri dan anknya, namun malam itu ia merasa begitu akrab tertawa bersama mereka. Biasanya ia mendapat senyuman palsu dari para karyawan, namun hari itu ia mendapatkan senyuman yang benar-benar tulus dari mereka.
Maka, malam itu si pengusaha pun memutuskan untuk mengembalikan botol yang kedua. Setelah anak dan istrinya tidur, ia menyelinap keluar dan melaju menuju rumah si psikiater. Si psikiater sendiri belum tidur, seolah mengetahui kalau si pengusaha akan datang.
Ketika si pengusaha menyampaikan maksudnya untuk mengembalikan racun kedua, si psikiater menjawab, "Ini bukan racun tapi sirup biasa. Yang menyembuhkan Anda bukan nasihat dari psikiater, tapi tekad dan semangat Anda untuk berubah menjadi orang yang lebih baik. Kasih sayang Anda kepada sesama merupakan obat yang paling mujarab untuk menyembuhkan sakit Anda."
Si pengusaha tertegun. Ia merasa telah dibohongi oleh si psikiater. Namun ia juga sangat berterima kasih kepada orang itu yang telah berhasil membukakan mata hatinya, bahwa hidup itu indah kalau kita saling menghargai dan menyayangi.




2 komentar:

agung mengatakan...

kesabaran dan keikhlasan adalah kunci menuju kebahagiaan.

Mpu Heri Antapurwa mengatakan...

Setuju!!!

Posting Komentar

 

Design in CSS by TemplateWorld and sponsored by SmashingMagazine
Blogger Template created by Deluxe Templates